Toyota Indonesia Menuju Basis Produksi untuk Bisa Ekspor

Toyota Indonesia Menuju Basis Produksi untuk Bisa Ekspor – Dunia otomotif sudah mengalami perubahan yang sangat besar dan puncak perubahan tersebut akan terjadi di tahun 2020. Untuk menjawab perubahan tersbut, Toyota di Jepang sudah mempersiapkan mesin dan transmisi barunya yang akan segera digunakan untuk berbagai model mobil barunya.

Sedangkan Wakil Presiden Direktur PT TMMIN, Warih Andang Tjahjono menjelaskan bahwa pihaknya juga sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi era tersebut. Jika dirasa Toyota Indonesia dianggap mampu, maka ia akan dipercaya menjadi basis produksi.

“Industri otomotif akan seperti itu, dan untuk menuju ke sana penentuannya ada pada periode 2017 sampai 2019. Apakah kita, Indonesia, bisa cukup kompetitif, apakah kita pantas menjadi manufacturing base dari suatu produk nantinya,” Kata Tjahjono.

Harapan ini timbul dari diumumkannya pendirian perusahaan internal oleh Toyota-Daihatsu untuk fokus menggarap pasar negara berkembang. Namun keputusan ini belum final walaupun Daihatsu Indonesia saat ini sudah punya pabrik terbesar di dunia.

Indonesia harus berhati-hati dengan negara tetangga, sebab Thailand sebagai negara pesaing siap mencuri kesempatan tersebut jika pemerintah Indonesia tidak jeli melihat kesempatan ekspor ini.

Sebagaimana yang dilansir oleh Kompas (17/12/2016), Tjahjono menjelaskan bahwa untuk bisa menjadi eksportir, setidaknnya ada tiga faktor yang harus dipenuhi. Pertama, suatu produk bisa diproduksi di satu market jika memang pasar domestiknya besar.

“Sinyal ini bisa saja diberikan oleh pihak Toyota Astra Motor (TAM), kalau saat ini kami misalnya sudah memiliki penguasaan sekitar 35 persen di Indonesia. Dengan itu, mereka akan memandang kalau Indonesia pasarnya bagus, dan produknya diterima.” Jelas Tjahjono.

Kedua, pertimbangan dari sisi pemerintah. “Sinyal goverment itu penting bagi suatu industri, investor akan melihat bahwa kegiatan industriya semakin lama makin meningkat di Indonesia. Ini bisa menyangkut regulasi, atau juga pembangunan infrastruktur.” Tutur Tjahjono.

Ketiga, pertimbangan dari TMMIN. “Baru yang terakhir adalah dari sisi TMMIN sendiri, terkait dengan supply chain, upstream industri berkembang atau tidak, tumbuh atau tidak dan lainnya. Sinyal-sinyal itu harus kami tingkatkan, sampai pada keputusan kalau diproduksi di Indonesia itu bagus, cukup seperti itu, dan ujiannya ada di periode 2017-2019.” Tutupnya.

 

Gambar Gravatar
Berawal dari ikut pelatihan jurnalistik kampus kemudian dipaksa menulis oleh salah satu senior, membuat saya akhirnya hobi dengan dunia tulis menulis. Pernah menjadi pemred di Majalah Paradigma Stain Kudus 2009-2010. Beberapa tulisan pernah dimuat di berbagai media, baik lokal maupun nasional seperti koran Kompas, Media Indonesia, Suara Merdeka, Rakyat Sultra dan lain sebagainya. Sekarang serius di bidang penulisan konten, blogger dan penjual madu di www.oimcuaem.blogspot.com